Pendahuluan
Bahasa sebagai alat komunikasi, memiliki
peranan yang sangat penting dalam
kehidupan individu maupun kelompok. Kernampuan berbahasa menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi, terlebih pada era globalisasi,
rnodernisasi, industrialisasi, dan
era informasi seperti saat ini.
Aspek yang sangat rnenonjol dan terlihat
dengan sangat jelas terkait dengan
era seperti sekarang ini adalah terjadinya perubahan yang arnat cepat yang terjadi pada setiap sektor kehidupan, sesaat saja kita terlena kita akan
tertinggal jauh dan tergilas
oleh roda waktu.
PEMBAHASAN
A.
Latar belakang
Kernampuan dan penguasaan bahasa menjadi
sangat urgen dan tidak bisa ditunda. Sementara
kendala penguasaan bahasa
sejak dulu sampai sekarang masih menjadi
sebuah delema yang tidak kunjung terpecahkan. Salah
satu contoh ; banyak orang yang telah bersusah payah dan berusaha keras belajar bahasa Arab misalnya, bahkan telah
menghabiskan banyak waktu
untuk itu namun hasilnya tidak pernah memuaskan.
Untuk hal tersebut penulis tergerak untuk ikut
serta menyumbangkan pemikiran dalam upaya mencari
solusi alternatif yang
dapat memecahkan kebekuan masalah tersebut, dengan mencoba melihat dari aspek psikis yakni
tinjauan psikologi dengan
sebuah pendekatan Psikologi Belajar Bahasa.
Seperti yang kita ketahui, metodologi
pengajaran bahasa a sing
saat ini mengalami perkembangan terus-menerus. Seiring dengan perkembangan yang terjadi terutama pada
disiplin ilmu bahasa ( ilmu
al-Iughah- Linguistik), Ilmu pendidikan ( paedagogi) dan ilmu an-Nafs (psychology). Lebih dari
pada itu, hasil-hasil penelitian
dalam bidang pengajaran bahasa, juga rnemberikan kontribusi kepada lahirnya pendekatan dan metode baru
dalam pengajaran bahasa. Harus
diakui bahwa sebagian besar dari perkembangan tersebut terjadi pada pengajaran bahasa Inggris yang merupakan bahasa
dunia paling populer dewaaa ini. Sementara pengajaran bahasa Arab lebihbanyak berperan sebagai pengadopsi, sehingga seringkali tertinggal di
banding bahasa Inggris. Apalagi
pengajaran bahasa Arab di Indonesia kurang memiliki akses ke lembaga-lembaga ilmiah di Timur Tengah.
Keterampilan berbahasa
mencakup empat segi yaitu listening
skills, speaking skills, reading skills dan writing skills. Setiap keterampilan erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya. Dalam memperoleh keterampilan
berbahasa, biasanya melalui
suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula pada masa kecil (kanak-kanak) kita belajar menyirnak
bahasa, kemudian berbicara;
sesudah itu kita belajar membaca, dan menulis. Menyimak dan berbicara dipelajari sebelum memasuki sekolah, sedangkan membaca dan menulis dipelajari di sekolah.
Keempat kete-
rampilan tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan (catur-tunggal). Selanjutnya setiap keterampilan erat pula berhub ungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Sernakin trampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Meta tih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. [1]
rampilan tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan (catur-tunggal). Selanjutnya setiap keterampilan erat pula berhub ungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Sernakin trampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Meta tih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. [1]
Beberapa Pengertian
1. Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche
yang berarti jiwa dan logos
yang berarti ilmu. Jadi secara
harfiah psikologi berarti ilmu tentang jiwa atau ilmu
jiwa. Dalam perkembangan
selanjutnya karena kontak dengan berbagai disiplin ilmu, maka lahirlah bermacam-macam definisi psikologi yang satu sama lain berbeda. Salah satu di
antaranya, seperti yang
dikemukakan oleh Crow and Crow, "psichology is the study of human behavior and human
relationship".[2]
2. Belajar
Belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh :
James 0. Whittaker
"sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui
latihan atau pengalaman". Cronbach berpendapat bahwa "learning is shown by change in behavior as a result of experience". Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjuk-
kan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Sementara Howard L. Kingskey mengatakan belajar adalah "proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan". Dari beberapa pengertian di atas tentang belajar dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegia tan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalan-tan individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.[3]
kan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Sementara Howard L. Kingskey mengatakan belajar adalah "proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan". Dari beberapa pengertian di atas tentang belajar dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegia tan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalan-tan individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.[3]
3. Bahasa
Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang
arbitrer yang dipakai oleh
anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka milikibersama. Sistem
dalam bahasa adalah sistem yang
terdiri dari Karena bahasa adalah lisan, maka simbol-simbol ini juga berupa simbol-simbol lisan. Simbol ini bersifat arbitrer, yakni,
tidak ada keterkaitan antara
simbol-simbol ini dengan benda, keadaan, atau peristiwa yang diwakilinya.
Sistem simbol lisan yang arbitrer ini dipakai
oleh masyarakat bahasa
tersebut, yakni, masyarakat yang memiliki bahasa itu. Orang dari masyarakat bahasa lain ten tunya tidak
dapat memakai sistem ini. Pemakai bahasa menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antara
sesama mereka, tetapi
dalam berinteraksi itu mereka, secara tidak sadar, dikendalikan oleh budaya yang mereka pangku.
Perilaku bahasa mereka
merupakan cerminan dari budaya mereka.
Jadi psikologi sebagai ilmu tentang jiwa,
dalam kaitan-
nya dengan kemampuan berbahasa, mencoba menganalisis dari segi perilaku orang yang berbahasa. Bagaimana potensi dan peluang yang dapat diolah terkait dengan penguasaan dan perkembangan kernampuan berbahasa. Dengan demikian Psikologi Belajar Bahasa mencoba menelusuri proses seseorang dalam belajar atau melakukan pembelaja ran tentang bahasa. Psikologi Belajar Bahasa juga mengandung pengertian bagai-
rnana seseorang melakukan pelajaran dalam mengembangkan dan rneningkatkan keterampilan berbahasa, pada keseluruhan bahasa yang menjadi alat komunikasi.
nya dengan kemampuan berbahasa, mencoba menganalisis dari segi perilaku orang yang berbahasa. Bagaimana potensi dan peluang yang dapat diolah terkait dengan penguasaan dan perkembangan kernampuan berbahasa. Dengan demikian Psikologi Belajar Bahasa mencoba menelusuri proses seseorang dalam belajar atau melakukan pembelaja ran tentang bahasa. Psikologi Belajar Bahasa juga mengandung pengertian bagai-
rnana seseorang melakukan pelajaran dalam mengembangkan dan rneningkatkan keterampilan berbahasa, pada keseluruhan bahasa yang menjadi alat komunikasi.
Frinsip-prinsi
Dasar Linguistik
Linguistik mempunyai beberapa prinsip dasar, yaitu:
1. Bahasa adalah suatu sistem. Suatu sistem
pola-pola yang
kompleks dan suatu struktur dasar. Di dalamnya terdapat
ketentuan-ketentuan individual yang bekerja bersama-sama
dengan kesatuan-kesatuan lainnya. Anak-anak mempelajari
sesuatu bahasa dengan belajar mempergunakan pola-pola
yang berstruktur itu, bukan dengan cara menganalisisnya.
kompleks dan suatu struktur dasar. Di dalamnya terdapat
ketentuan-ketentuan individual yang bekerja bersama-sama
dengan kesatuan-kesatuan lainnya. Anak-anak mempelajari
sesuatu bahasa dengan belajar mempergunakan pola-pola
yang berstruktur itu, bukan dengan cara menganalisisnya.
2. Bahasa adalah vokal. Hanya ujaran sajalah
yang mengandung
segala tanda utama sesuatu bahasa. Bagian-bagian kesatuan
itu merupakan bunyi-bunyi yang membuat suatu perbedaan
dalam makna; bunyi-bunyi tersebut disebut fonem-fonem.
Huruf-huruf merupakan segala upaya untuk mewakili
bunyi-bunyi sesuatu bahasa. Membaca pertama sekali
merupakan suatu perekam (recording) cetakan menjadibunyi,
kemudian merupakan suatu pernbacaan sandi bahasa
menjadi makna. Inilah sebabnya mengapa suatu program
membaca harus didasarkan pada pengetahuan bahasa yang
ada pada sang anak
segala tanda utama sesuatu bahasa. Bagian-bagian kesatuan
itu merupakan bunyi-bunyi yang membuat suatu perbedaan
dalam makna; bunyi-bunyi tersebut disebut fonem-fonem.
Huruf-huruf merupakan segala upaya untuk mewakili
bunyi-bunyi sesuatu bahasa. Membaca pertama sekali
merupakan suatu perekam (recording) cetakan menjadibunyi,
kemudian merupakan suatu pernbacaan sandi bahasa
menjadi makna. Inilah sebabnya mengapa suatu program
membaca harus didasarkan pada pengetahuan bahasa yang
ada pada sang anak
3. Bahasa tersusun dari lambang-lambang
arbitrer. Ini berarti
bahwa hubungan antara lambang dan makna juga bersifat
arbitrer. Adalah salah bila kita memperdebatkan mengapa
seseorang memakal/rnengatakan kuali sebagai pengganti
belanga, atau ibu untuk emak, ayah untuk bapak, dan bahwa
hanya ada satu ucapan yang benar bagi suatu kata. Penga-
kuan bahwa lambang-lambang bahasa bersifat arbitrer
haruslah juga membuat kita selalu bertindak arbitrer dalam
hal itu.
bahwa hubungan antara lambang dan makna juga bersifat
arbitrer. Adalah salah bila kita memperdebatkan mengapa
seseorang memakal/rnengatakan kuali sebagai pengganti
belanga, atau ibu untuk emak, ayah untuk bapak, dan bahwa
hanya ada satu ucapan yang benar bagi suatu kata. Penga-
kuan bahwa lambang-lambang bahasa bersifat arbitrer
haruslah juga membuat kita selalu bertindak arbitrer dalam
hal itu.
4. Setiap bahasa bersifat unik,
mempunyai ciri-ciri khas. Tidak
ada dua bahasa yang mempunyai perangkat pola-pola yang sama, bunyi-bunyi yang sama, kata-kata atau sintaksis yang sama.
ada dua bahasa yang mempunyai perangkat pola-pola yang sama, bunyi-bunyi yang sama, kata-kata atau sintaksis yang sama.
5. Bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan.
Penggunaan
sistem itu sendiri sebenarnya berada pada tingkatan ke-
biasaan. Cara-cara kita mengucapkan suatu bunyi atau me-
nyusun kata-kata dalam suatu kalimat kita lakukan seotorna-
tis kita berjalan. Belajar sesuatu bahasa dipengaruhi oleh
situasi-situasi yang menuntut penggunaan bahasa. Situasi-
situasi tersebut mengawasi, mergontrol kosa kata dan
sintaksis
sistem itu sendiri sebenarnya berada pada tingkatan ke-
biasaan. Cara-cara kita mengucapkan suatu bunyi atau me-
nyusun kata-kata dalam suatu kalimat kita lakukan seotorna-
tis kita berjalan. Belajar sesuatu bahasa dipengaruhi oleh
situasi-situasi yang menuntut penggunaan bahasa. Situasi-
situasi tersebut mengawasi, mergontrol kosa kata dan
sintaksis
6. Bahasa adalah untuk komunikasi.
Pertama-tama sekali
bahasa itu haruslah dapat dipahami atau dimengerti oleh
pemakai, tetapi juga hams dapat dipahami oleh orang lain.
Kalau ucapan salah dimengerti, tidak dapat dipahami, atau
bentuk-bentuk menyatakan suatu makna yang lain dari yang
dimaksud oleh seorang, maka bahasa gagal mengkomuni-
kasikan mereka. Hal ini menuntut suatu analisis pendengar.
Kalau hal ini dilakukan maka jelaslah terlihat mengapa
pemakai kata-kata yang bake itu sangat penting dan pada
tingkat ilmiah diperlukan suatu ketegasan atau kepastian.
bahasa itu haruslah dapat dipahami atau dimengerti oleh
pemakai, tetapi juga hams dapat dipahami oleh orang lain.
Kalau ucapan salah dimengerti, tidak dapat dipahami, atau
bentuk-bentuk menyatakan suatu makna yang lain dari yang
dimaksud oleh seorang, maka bahasa gagal mengkomuni-
kasikan mereka. Hal ini menuntut suatu analisis pendengar.
Kalau hal ini dilakukan maka jelaslah terlihat mengapa
pemakai kata-kata yang bake itu sangat penting dan pada
tingkat ilmiah diperlukan suatu ketegasan atau kepastian.
7. Bahasa berhubungan
dengan kebudayaan tempatnya
berada.. Bahasa berada pada para pembicara yang berada
pada tempat tertentu melakukan hal-hal tertentu. Hampir
setiap perdagangan mempunyai kata-kata serta ekspresi-
ekspresi yang hanya dimengerti oleh anggota kelompoknya.
berada.. Bahasa berada pada para pembicara yang berada
pada tempat tertentu melakukan hal-hal tertentu. Hampir
setiap perdagangan mempunyai kata-kata serta ekspresi-
ekspresi yang hanya dimengerti oleh anggota kelompoknya.
8. Bahasa itu berubah.
Tidak ada yang tetap di dunia ini;
termasuk juga bahasa. Semua berubah. Perubahan ini yang
mencakup kosa kata, bunyi-bunyi bahasa, bentuk kata,
bentuk kalimat, dan lain-lain,
termasuk juga bahasa. Semua berubah. Perubahan ini yang
mencakup kosa kata, bunyi-bunyi bahasa, bentuk kata,
bentuk kalimat, dan lain-lain,
Kedelapan prinsip linguistik yang telah
diutarakan tadi sangat
penting diketahui serta dipahami oleh guru bahasa yang selalu berhadapan dengan anak-anak didiknya.
Teori Pengajaran Bahasa
A.
Aliran Struktural dan Generatif Trasformasi
1. Aliran Struktural
Aliran ini dipelopori oleh
linguis dari Swiss Ferdinand de Saussure (1857-1913) Dialah yang meletakan
dasar-dasar linguistik struktural berdasarkan
penelitian-penelitian dengan menggunakan metode-rnetode penelitian
Beberapa
teori tentang bahasa dapat disebutkan (1) ba-
hasa itu pertama-tama adalah ujaran/lisan (2) kemampuan berbahasa diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan (3) Setiap bahasa memiliki sistemnya sendiri yang berbeda dari bahasa lain, oleh karena itu, menga-
nalisis suatu bahasa tidak bisa memakai kerangka yang diguna-
kan untuk menganalisis bahasa lainnya. (4) Setiap bahasa memiliki sistem yang utuh dan cukup untuk mengekspresikan rnaksud dari penuturnya, oleh karena itu tidak ada satu bahasa yang unggul atas bahasa lainnya. (5) Sernua bahasa yang hidup berkembang mengikuti perubahan zarnan terutama karena terjadinya kontak dengan bahasa lain, oleh karena itu, kaidah-
kaidahnya pun bisa mengalami perubahan. (6) Sumber pertama dan utama kebakuan bahasa adalah penutur bahasa tersebut, bukan lernbaga ilmiah, pusat bahasa, atau mazhab-mazhab gram atika
hasa itu pertama-tama adalah ujaran/lisan (2) kemampuan berbahasa diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan (3) Setiap bahasa memiliki sistemnya sendiri yang berbeda dari bahasa lain, oleh karena itu, menga-
nalisis suatu bahasa tidak bisa memakai kerangka yang diguna-
kan untuk menganalisis bahasa lainnya. (4) Setiap bahasa memiliki sistem yang utuh dan cukup untuk mengekspresikan rnaksud dari penuturnya, oleh karena itu tidak ada satu bahasa yang unggul atas bahasa lainnya. (5) Sernua bahasa yang hidup berkembang mengikuti perubahan zarnan terutama karena terjadinya kontak dengan bahasa lain, oleh karena itu, kaidah-
kaidahnya pun bisa mengalami perubahan. (6) Sumber pertama dan utama kebakuan bahasa adalah penutur bahasa tersebut, bukan lernbaga ilmiah, pusat bahasa, atau mazhab-mazhab gram atika
2. Aliran
Generatif-Ttransformasj
Tokoh
utama Linguis Amerika Noam Chomsky th 1957 mempublikasikan bukunya "Langguage
Structures" aliran ini membedakan dua struktur
bahasa : Struktur luar dan struktur da la m. Bentuk ujaran yang
diucapkan atau ditulis oleh penutur adalah struktur luar yang
merupakan manifestasi dari struktur dalam. Ujaran itu bisa
berbeda bentuk dengan struktur dalarn-
nya, tetapi pengertian yang dikandung sama. Sejalan dengan itu, Chomsky membagi kemampuan berbahasa menjadi dua, yakni kompetensi dan performansi. Kompetensi adalah kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur. Kompe-
tensi rnenggambarkan pengetahuan tentang sistem bahasa yang sempurna, yaitu pengetahuan tentang sistem kalirnat (sintaks), sis tern kata (morfologi), sis tern bunyi (fonclogi) dan sis tern makna (sem a t ik) Sed ang k an performansi a dalah ujaran-ujaran yang bisa didengar atau clibaca, yang merupakan tuturan seseorang apa adanya tanpa dibuat-buat. Oleh karena itu, performansi bisa saja tidak sempurna, dan oleh karena itu pula, menurut Chomsky, suatu tata bahasa hendaknya memberikan kompetensi dan bukan performansi
nya, tetapi pengertian yang dikandung sama. Sejalan dengan itu, Chomsky membagi kemampuan berbahasa menjadi dua, yakni kompetensi dan performansi. Kompetensi adalah kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur. Kompe-
tensi rnenggambarkan pengetahuan tentang sistem bahasa yang sempurna, yaitu pengetahuan tentang sistem kalirnat (sintaks), sis tern kata (morfologi), sis tern bunyi (fonclogi) dan sis tern makna (sem a t ik) Sed ang k an performansi a dalah ujaran-ujaran yang bisa didengar atau clibaca, yang merupakan tuturan seseorang apa adanya tanpa dibuat-buat. Oleh karena itu, performansi bisa saja tidak sempurna, dan oleh karena itu pula, menurut Chomsky, suatu tata bahasa hendaknya memberikan kompetensi dan bukan performansi
B. Metode Pengajaran Bahasa
1.
Mazhab Behaviorisme
Pengembangan
metode pengajaran dibangun di atas landasan teori-teori ilmu jiwa ilmu bahasa
(iinguistik).Psikologi menguraikan bagaimana orang belajar sesuatu. Dalam
pengajaran bahasa, mazhab behaviorisme ini melahirkan pendekatan aural-oral (
tharf'qah sam'iyyah syafahiyyah) Dalam pendekatan ini peran guru sangat dominan
karena dialah yang memilih bentuk stimulus, memberikan ganjaran dan hukuman,
memberikan penguatan dan menentukan jenisnya, dan dia pula yang memilih buku,
materi, dan cara mengajarkannya, bahkan menentukan jawabannya atas pertanyaan
yang diajukan kepada pembelajar. Pendekatan ini memberikan perhatian utama
kepada kegia tan la tihan, drill, menghapal kosa kata, dialog, teks bacaan, dan
pada sisi lain lebih mengutamakan bentuk luar bahasa. (pola, struktur, kaidah)
dari pada kandungann isinya, dan mengutamakan kesahihan/akurasi dari pada
kemampuan interaksi dan kornunikasi.
2.
Mazhab Kognitif
Mazhab
kognitif menegaskan pentingnya keaktifan pembelajar. Pembelajaran yang mengatur
dan menentukan proses pembelajaran. Lingkungan bukanlah penentu awal dan akhir
positif atau negatifnya hasil pembelajaran. Menurut mazhab ini, seseorang
ketika menerima stimulus dari lingkungannya, dia melakukan pemilihan sesuai
dengan minat dan keperluaannya, rnenginterpretasikarmya, rnenghubungkannya
dengan pengalaman terdahulu, baru kemudian memilih alternatif respon yang
paling sesuai.
Para
ahli psikolinguistik pengikut rnazhab kognitif, antara lain Noam Chomsky dan
James Deez, berpandangan
bahwa
setiap manusia memiliki kesiapan fitriah (alamiah) untuk belajar bahasa.
Manusia lahir dibekali oleh sang Pencipta dengan piranti pemerolehan bahasa
atau LAD (Language Acquisition Device). Alat ini menyerupai layar radar yang
hanya menangkap gelombang-gelombang bahasa. Setelah diterima,
gelombanggelombang itu ditata dan dihubung-hubungkan satu sama lain menjadi
sebuah sistem kemudian dikirimkan ke pusat pengolahan kemampuan berbahasa.
(language competence). Pusat ini merumuskan kaidah-kaidah bahasa dari data-data
ujaran yang dikirimkan oleh LAD dan menghubungkannya dengan makna yang
dikandungnya, sehingga terbentuklah kemampuan berbahasa. Pada tahap
selanjutnya, pembelajar bahasa menggunakan kemampuan berbahasanya untuk
mengkreasi kalimatkalimat dalam bahasa yang dipelajarinya untuk mengungkapkan
keinginan dan keperluannya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah diketahui.
Tehnik
Penguasaan Bahasa dengan Mengefisiensikan Kerja Otak
Untuk
mengefisiensikan penguasaan bahasa, ada beberapa tehnik yang perlu dilakukart,
yaitu:
1.
Berilah otak kesempatan menyimak banyak-banyak —
bagairnana kita
tercengangmenyaksikan orang tidak sekolah
lancar berbahasa asing. Dengan
memanfaatkan program-
pro gram radio, rekaman-rekaman,
serta mendengarkan
kuliah-kuliah yang merupakan
bahan-bahan mentah yang
dapat dipergunakan oleh otak untuk
mengasimilasi, me-
milih, serta menyimpan data-data
penting mengenai bahasa.
2.
Tenang dan santai. Kegelisahan-kegelisahan, sekalipun
mengenai belajar bahasa, seakan-akan
memutuskan upaya-
upaya otak kita untuk melakukan
tugasnya.
3.
Janganlah memasang rintangan-rintangan baik bunyi-
bunyian. Orang-orang yang berrnukim
di dekat rel kereta
api yang bising cenderung untuk
melindungi diri mereka
dengan " tabir bunyi"
penghalang secara mental, sehingga
mereka
tidak mendengar kereta api lewat. Beberapa orang cenderung memasang
penghalang-penghalang bunyi bagi bahasa-bahasa asing dan sebagai akibatnya
mereka tidak
mengasimilasi
bahasa itu sedemikian rupa sehingga hal itu seolah-olah banyak menolong mereka
pada suatu tingkat kesadaran. Akan tetapi dalam beberapa contoh, orang-orang
ini
telah diketahui mempergunakan bahasa asing dengan amat lancar, kalau mereka
mabuk atau sakit jiwa.
4.
Berikan waktu yang cukup bagi otak. Pada akhir minggu
kebanyakan orang beranggapan bahwa
mereka haruslah
mulai berbicara sesuatu bahasa
asing. Tentu saja tanpa sangsi
mereka.dapat memakai beberapa ekspresi,
tetapi untuk
memanfaatkan "passive
listening" dengan sebaik-baiknya
haruslah memberi kesempatan bagi
otak untuk bekerja
beberapa bulan.
5.
Beni kesempatan bagi otak bekerja, sementara kita rnenger-
jakan sesuatu yang lain. Adalah
merupakan suatu cara yang
baik memasang rekaman dalam suatu
bahasa sementara kita
bercukur, makan, membaca koran sore,
ataupun pada saat
bermain dengan anak-anak. Kita akan
dapat memberi
perhatian yang serius sepanjang waktu; oleh sebab itu
berilah kesempatan menyimak bagi
otak secara santai.
Banyak orang menganggap sepele akan
hal itu , tetapi sangat
penting dalam belajar bahasa,
terlebih lebih bahasa asing.
Jangan dilupakan bahwa pada saat
tidurpun otak kita tetap aktif. [4]
Aktivitas Kegiatan Belajar Bahasa
Dalam belajar bahasa, seseorang tidak akan dapat
menghindarkan diri dari suatu situasi. Situasi akan menentukan aktivitas apa
yang akan dilakukan dalam rangka belajar bahasa. Bahkan situasi itulah yang
mempengaruhi dan menentukan aktivitas belajar bahasa apa yang dilakukan
kemudian. Setiap situasi di manapun dan kapanpun memberikan kesempatan belajar
bahasa kepada seseorang. Berikut beberapa aktivitas kegiatan belajar bahasa:
A. Menyimak dan berbicara
Menyimak
dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang berlangsung face to
face communication. [5]
Ujaran (speech) biasanya dipelajari
melalui menyimak dan meniru (imitasi); oleh karena itu maka model atau contoh
yang disimak dan direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasan serta
kecakapan berbicara
Kata-kata
yang akan dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasanya ditentukan oleh
perangsang (stimulus) yang ditemuinya (misalnya kehidupan desa kota) dan
kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam penyampaian
ide-idenya.
Ujaran
sang anak mencerminkan pemakaian bahasa di rumah dan dalam masyarakat tempatnya
hidup; misalnya ucapan, intonasi, kosa kata, pengunaan kata-kata, dan pola-pola
kalirnat.
Anak
yang masih kecil lebih dapat memahami kalimatkalimat yang lebih panjang dan
rumit tinimbang kalimatkalirnat yang dapat cliucapkannya.
Meningkatkan
keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara
seseorang.
Bunyi suara merupakan suatu faktor
penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata sang anak; oleh karena itu,
sang anak akan tertolong kalau dia mendengarkan serta menyimak ujaran-ujaran
yang baik dari para guru, rekarnan yang bermutu dan cerita-cerita yang
bernilai.
Berbicara
dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penangkapan
informasi yang lebih baik
pada
pihak penyimak. Urnumnya sang anak memperguanakan bahasa yang didengar serta
disimaknya. 1`
B. Menyimak
Don
Brown, dalam disertasinya yang berjudul "Auding as the Primary Language
Ability" pada Stanford University, 1954, menyatakan bahwa istilah-istilah
Learnig dan Listening kedua-duanya terbatas dalam makna dan bahwa auding yang
diturunkan dari kata kerja neologis to aud, lebih tepat rnelukiskan, memberikan
keterampilan yang ada sangkut pautnya dengan para guru. "Auding is to the
ears what reading is to the eyes". Kalau membaca merupakan proses melihat,
mengenal serta mengin-
terpretasikan
lambang-lambang tulis, maka menyimak dapatlah dibatasi sebagai proses besar
mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-larnbang lisan .[6]
Russel & Russel, berpendapat bahwa
menyimak, bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta
apresiasi.[7]
Dengan
demikian, menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang
lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk
memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak
disarnpaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan
PENUTUP
Manusia
di mana pun juga pasti akan dapat menguasai, atau lebih tepatnya memperoleh
bahasa, asalkan dia tumbuh dalam suatu masyarakat. Proses pemerolehan ini
merupakan suatu hal yang kontroversial di antara para ahli bahasa.
Orang
pada umumnya tidak merasakan bahwa menggunakan bahasa merupakan suatu
keterampilan yang luar biasa rumitnya. Pemakaian bahasa terasa lumrah karena
memang tanpa diajari oleh siapapun. Seorang bayi akan tumbuh bersamaan dengan
pertumbuhan bahasanya. Dari umur satu sampai dengan satu setengah tahun seorang
bayi mulai mengeluarkan bentuk-bentuk bahasa yang telah dapat kita
identifikasikan sebagai kata. Ujaran satu kata tumbuh menjadi ujaran dua kata
dan akhirnya menjadi kalimat yang komplek menjelang urnur empat atau lima
tahun.
Dengan
fakta-fakta seperti dipaparkan di atas maka pandangan masa kini mengenai bahasa
rnenyatakan bahwa bahasa adalah fenomena biologist khususnya fenomena biologi
perkembangan. Arah dan jadwal munculnya suatu elemen dalam bahasa adalah
masalah genetik. Sebagai contoh, gigi manusia yang jaraknya rapat, tinginya
rata, dan tidak miring ke depart membuat udara yang keluar dari mulut lebih
dapat diatur. Begitu pula bibir manusia lebih dapat digerakkan dengan
fleksibel. Bibir atas yang bertemn dengan bibir bawah akan menghasilkan bunyi
tertentu, /m/,/p/,/b/, tetapi bila bibir bawah agak ditarik ke belakang dan
xnenernpel pada ujung gigi atas akan terciptalah bunyi lain ,/f/ dan /v/. Di
samping struktur mulut, paru-paru manusia juga dengan mudah menye-
suaikan
diri dengan kebutuhan. Pernafasan kita waktu berbicara, waktu diam, dan waktu
menyanyi lidaklah sama. Pada waktu bicara, kita menarik nafas yang panjang
sehingga paru-paru menjadi besar. Udara ini tidak kita heinbuskan keluar sekaligus,
tetapi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Karenartu, kita dapat berbicara
berjam-jam, tetapi kita tidak bisa berada dalam air lebih lama daripada lima
menit.
Daftar Pustaka
Anderson;
Paul S., Language Skills in Elementary Education, New York:
Macmillan
Publishing Co,Inc, 1972. 90
Dirdung
Harndun,Psikalogi Belajar Bahasa
Brooks;
Nelson; Language and Langguage Learning, New York
Horcourt,Brace & World,Inc.
1964.
Dawson,
Mildred A. (et.a1), Guiding Language Learning, New York:
Harcout, Brace& World, Inc.
Djamarah,
Syaiful Bahri, Psikologi Belajar, Jakarta :
PT Adi Maha-
satya, 2002.
Dardjowidjojo,
Psikolinguistik, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
2005.
Fletcher,
Paul dan Brian Mac Whinney. The Hand book of Child
Langguage, Oxfort: Blackwell
Publisher, 1995.
Hunt,
M., A New Science Explores the Human Mind, New York: Simond
& Schuster, 1982.
Nida;
Eugene A., Learning a Foreign Langgnage, Ann Arbor Michigan:
Cushing Malloy, Inc.,1957.
Rakhmat,
Jalaluddin., Psikologi koniunikasi. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2002.
Tarigan,
Henry Guntur, Menyimak sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa, Bandung: Angkasa, 1985.
[1]
Mildred A. Dawson, (etal) , Guiding
Language Learning, ( New York Harcout, Brace& World, Inc. 27, Lihat
juga , Henry Guntur Tarigan, Menyirnak sebagai
Suatu Keterampilan Berbahasa, ( Bandung: Angkasa,1985), 1
[2]
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar,
( Jakarta PT MA Mahasatya,2002) , 1
[4]
Eugene A. Nida, Learning a Foreign
Langguage, (Ann Arbor Michigan : Cushing Malloy, Inc.,1957) p. 27-29, Lihat
juga, Tarigan, Menyimak...,. 31
[5]
Eugene A. Nida, Learning a Foreign
Langguage, (Ann Arbor Michigan : Cushing Malloy, Inc.,1957) p. 27-29, Lihat
juga, Tarigan, Menyimak..., p. 31
[6]
Dawson .Gitidirrg..., p. 29
[7]
Paul S. Anderson, Language Skills in Elementary Education, (New York Macmillan
Publishing Co,Inc, 1972), 68